Penjualan Saham Freeport Rampung Bulan Depan

JAKARTA — PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum akan menyelesaikan transaksi pembelian 51 persen saham PT Freeport Indonesia. Berdasarkan target pemerintah, transaksi yang komitmennya diteken sejak Juli lalu ini harus rampung pada bulan depan. “Kami usahakan secepatnya untuk diselesaikan,” ujar Head of Corporate Communications and Government Relations Inalum, Rendi Witular, kepada Tempo, kemarin. Menurut Rendi, ada tiga transaksi yang harus diselesaikan Inalum, yakni perjanjian jual-beli hak partisipasi dengan Rio Tinto, perjanjian jual-beli saham dengan PT Indocopper Investama (anak usaha Freeport), serta akad konversi hak partisipasi menjadi saham dengan Freeport McMoran. Rendi mengemukakan bahwa tiga transaksi ini akan diselesaikan secara bersamaan. Inalum melaporkan nilai transaksi mencapai US$ 3,85 miliar atau sekitar Rp 55 triliun. Perusahaan akan menggelontorkan US$ 3,5 miliar untuk membeli 40 persen hak partisipasi Rio Tinto di Freeport Indonesia.

Sisanya dipakai untuk membeli saham dari induk usaha Freeport di Amerika Serikat. Divestasi adalah bagian dari empat poin perundingan kelanjutan operasi Freeport di Indonesia setelah kontraknya habis pada 2021. Selain divestasi, Freeport wajib membangun fasilitas pemurnian tembaga. Adapun pemerintah harus memberikan perpanjangan operasi plus aturan fiskal yang tetap bagi Freeport hingga 2041. Kestabilan fiskal sudah dijamin pemerintah melalui penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2018.

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin mengemukakan, bersamaan dengan transaksi, perseroan juga tengah membicarakan pembentukan perusahaan patungan (joint venture company) bersama pemerintah Papua dan pemerintah Mimika. Ketiga pihak masih mengkaji dua opsi patungan: membentuk perusahaan baru atau memakai perusahaan pelat merah daerah yang ada. “Kalau pakai perusahaan daerah yang ada kan bisa lebih cepat,” ujar Budi, Selasa lalu. Nantinya, dia berujar, transaksi akan diteken atas nama perusahaan patungan. Direktur Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Fajar Harry Sampurno, mengemukakan bahwa ada 11 bank yang akan mendanai pembelian saham Freeport. Namun, dari belasan bank itu, tak ada satu pun yang dimiliki pemerintah. Fajar berdalih perbankan pelat merah ogah mendanai karena faktor risiko kurs dan ketersediaan dana. “Bank BUMN tak punya alokasi besar,” kata dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *